Ketika Kita Disakiti, Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Sama
Halo lagi! Yuk, kita ngobrolin sesuatu yang mungkin sedikit nyentil ego kita hari ini.
Pernah nggak sih kamu ada di fase ketika dulu kamu pernah didinginkan, digantungin, atau di-PHP-in habis-habisan sama seseorang?
Rasanya sakit banget, kan? Kita jadi bingung. Bertanya-tanya apa yang salah dari diri kita. Menunggu pesan yang nggak kunjung datang. Menebak-nebak sebenarnya hubungan ini mau dibawa ke mana.
Sampai suatu hari, posisi kita berbalik. Sekarang justru kita yang dikejar. Dan tanpa sadar, kita melakukan hal yang dulu paling kita benci. Balas pesan lama. Tarik-ulur perhatian. Memberi harapan secukupnya supaya dia tetap bertahan. Lalu muncul suara kecil di kepala: «“Oh... ternyata begini ya rasanya jadi pihak yang punya kendali.”»
Dan mungkin, jujur saja, ada sedikit rasa puas di sana. Karena dulu kita adalah orang yang menunggu. Sekarang kita yang ditunggu. Dulu kita tidak punya kendali atas perasaan orang lain. Sekarang kita merasa punya kendali atas perasaan seseorang.
Tapi kepuasan itu sebenarnya bisa menjadi ilusi. Ketika kita pernah disakiti, ditolak, atau dibuat merasa tidak berdaya, sebagian dari diri kita mungkin belajar bahwa kehilangan kendali itu menyakitkan. Maka ketika suatu hari kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi pihak yang menentukan, kontrol tersebut terasa seperti keamanan. “Selama aku yang menentukan kapan dia mendapat perhatian, aku nggak akan berada di posisi yang lemah lagi.”
Masalahnya, tanpa sadar kita bisa mulai menggunakan manusia lain sebagai obat untuk luka yang dibuat oleh manusia sebelumnya. Dan di situlah siklusnya dimulai.
Luka Bukan Alasan untuk Mengulang Luka
Aku nggak mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan tarik-ulur adalah orang jahat. Kadang seseorang memang belum tahu apa yang dia inginkan. Kadang dia takut berkomitmen. Kadang dia menikmati perhatian tetapi belum siap membangun hubungan. Kadang dia memang belum dewasa secara emosional.
Dan kadang, ya, ada juga yang sadar bahwa orang lain berharap kepadanya tetapi tetap memilih mempertahankan perhatian tersebut karena merasa nyaman.
Apa pun alasannya, satu hal tetap sama:
kita bertanggung jawab atas bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Pernah disakiti bukan berarti kita mendapatkan izin untuk menyakiti. Pernah di-PHP-in bukan berarti kita boleh melakukan hal yang sama ketika kesempatan datang. Dan pernah kehilangan kendali bukan berarti kita harus mencari orang lain untuk dijadikan tempat merebut kembali kendali tersebut.
Karena kalau kita berpikir, «“Aku melakukan ini karena dulu aku juga diperlakukan seperti ini,”» bukankah sebenarnya kita sedang meneruskan sesuatu yang dulu membuat kita terluka? Kita tidak memutus siklus. Kita hanya memindahkan korbannya.
Talking Stage Bukan Zona Abu-Abu Tanpa Batas
Aku juga ingin membahas satu hal yang sekarang cukup sering dinormalisasi: situationship. Sebenarnya, tidak semua hubungan tanpa status itu buruk.
Ada orang yang memang membutuhkan waktu untuk mengenal satu sama lain sebelum menentukan hubungan. Masalahnya bukan pada “belum ada label.” Masalahnya adalah ketika ketidakjelasan sengaja dipertahankan sementara salah satu pihak sudah memiliki harapan yang jauh lebih besar.
Misalnya:
«“Jalanin aja dulu.”»
«“Kita temenan aja dulu, nanti kalau cocok baru jadian.”»
Kalimat-kalimat itu sendiri sebenarnya tidak salah.
Yang menjadi masalah adalah ketika kalimat tersebut digunakan untuk mendapatkan kedekatan, perhatian, bahkan perlakuan seperti pasangan, tetapi ketika orang tersebut meminta kejelasan, kita terus menghindar. Karena kita ingin mendapatkan manfaat dari kedekatan tanpa mengambil tanggung jawab atas ekspektasi yang mungkin kita bangun.
Itu yang tidak fair.
Hubungan yang sehat tidak harus langsung punya label. Tetapi hubungan yang sehat membutuhkan kejujuran mengenai posisi masing-masing.
Talking stage boleh. PDKT boleh. Belum siap berpacaran juga boleh. Tidak tertarik untuk melanjutkan juga boleh. Yang tidak fair adalah membiarkan seseorang terus menebak-nebak karena kita takut kehilangan perhatian mereka.
Kejelasan Adalah Bentuk Empati
Menurutku, menjadi orang yang empatik bukan berarti kita harus selalu mengatakan "iya". Justru terkadang bentuk empati yang paling sederhana adalah berani mengatakan "tidak".
Misalnya, kamu sedang berada dalam talking stage dan kemudian sadar bahwa ternyata ada perbedaan prinsip yang sangat fundamental. Kamu bisa saja terus melanjutkannya karena takut membuat dia kecewa.
Tapi kamu juga bisa berkata: «“Aku merasa kita punya perbedaan prinsip yang cukup besar. Setelah kupikirkan, aku rasa kita nggak cocok untuk melanjutkan ini ke arah romantis. Aku lebih nyaman kalau kita tetap berteman.”»
Mungkin percakapannya akan terasa canggung. Mungkin dia kecewa. Mungkin kamu juga merasa bersalah. Tapi setidaknya dia tidak perlu menghabiskan berbulan-bulan untuk menebak-nebak perasaanmu.
Kejujuran memang bisa menyakitkan dalam jangka pendek. Tetapi ketidakjelasan yang sengaja dipelihara bisa menyakitkan jauh lebih lama. Jadi kalau kamu tahu bahwa kamu tidak ingin melanjutkan sesuatu, jangan memberikan harapan hanya karena kamu menikmati perhatian yang diberikan.
Kalau kamu belum siap berkomitmen, katakan. Kalau kamu hanya ingin berteman, katakan. Tapi harus selaras dengan tindakanmu, jangan bilang berteman aja tapi kamu chat selamat pagi, selamat siang, selamat malam setiap hari dan mengatasnamakan teman.
Kalau kamu butuh waktu, katakan. Kalau prinsip kalian ternyata tidak cocok, katakan. Kejelasan adalah bentuk penghargaan terhadap waktu dan perasaan orang lain.
Empati Bukan Berarti Membiarkan Diri Sendiri Disakiti
Tapi ada satu hal yang juga harus diluruskan. Menjadi empatik bukan berarti kamu harus selalu memahami orang lain sampai melupakan dirimu sendiri. Kamu boleh memahami kenapa seseorang bersikap buruk kepadamu. Kamu boleh tahu bahwa mungkin dia punya luka. Kamu boleh mengerti bahwa perilakunya mungkin terbentuk dari pengalaman masa lalu. Tapi memahami alasan seseorang tidak berarti kamu wajib menerima perlakuannya.
Kamu bisa berkata: «“Aku mengerti kamu punya alasan untuk menjadi seperti ini. Tapi aku tetap tidak mau diperlakukan seperti ini.”» Itu bukan kurang empati. Itu adalah batasan. Dan batasan juga merupakan bentuk kasih sayang—termasuk kepada diri sendiri.
Empati tanpa batas bisa berubah menjadi pengabaian terhadap diri sendiri. Karena itu, menjadi cycle breaker bukan berarti kita harus terus menderita demi memahami semua orang. Justru sebaliknya.
Cycle breaker adalah seseorang yang berkata: «“Aku tahu rasanya sakit. Karena itu, aku tidak mau meneruskan rasa sakit ini kepada orang lain. Dan aku juga tidak mau meneruskannya kepada diriku sendiri.”»
Lalu, Apa Hubungannya dengan Narsistik?
Nah, di sini aku ingin sedikit meluruskan istilah yang sering kita gunakan sehari-hari.
Kita sering menyebut orang yang egois, manipulatif, haus validasi, atau tidak peduli pada perasaan orang lain sebagai “narsistik.” Padahal memiliki perilaku narsistik tidak sama dengan memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Setiap manusia sebenarnya bisa menunjukkan sifat yang berpusat pada diri sendiri. Kita semua punya ego. Kita semua ingin dihargai. Kita semua bisa ingin mendapatkan perhatian. Dan dalam kondisi tertentu, kita semua juga bisa bersikap egois.
NPD sendiri adalah kondisi kesehatan mental yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan penilaian profesional. Jadi kita tidak bisa menentukan seseorang memiliki NPD hanya karena dia pernah melakukan satu atau dua perilaku yang menyakiti kita.
Karena itu, daripada sibuk memberikan diagnosis kepada seseorang, menurutku jauh lebih berguna kalau kita bertanya: “Apakah perilaku orang ini sehat untukku?” Bukan: “Apakah dia seorang narsistik?" Kita tidak selalu membutuhkan diagnosis untuk menyadari bahwa sebuah hubungan tidak sehat.
Ketika Luka Menjadi Mekanisme Pertahanan
Pengalaman hidup memang bisa memengaruhi cara seseorang berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang pernah sering diremehkan mungkin menjadi sangat membutuhkan validasi. Seseorang yang pernah ditinggalkan mungkin menjadi sangat takut kehilangan. Seseorang yang pernah dikontrol mungkin menjadi sangat membutuhkan kendali. Seseorang yang pernah diperlakukan buruk mungkin, tanpa sadar, belajar bahwa kekuasaan adalah cara untuk merasa aman.
Dan pada sebagian orang, pengalaman masa kecil maupun pola pengasuhan tertentu memang dapat berperan dalam perkembangan berbagai pola kepribadian.
Tetapi kita perlu berhati-hati. Trauma tidak otomatis membuat seseorang menjadi narsistik. Dan memiliki trauma juga bukan alasan untuk menyakiti orang lain. Luka dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang bertindak seperti itu.
Tetapi penjelasan bukan pembenaran.
Kita Punya Pilihan untuk Mengulang atau Menghentikan Siklus
Coba bayangkan sebuah generational trauma.
Seseorang dibesarkan dengan prinsip: «“Dulu aku diperlakukan seperti ini, jadi kamu juga harus merasakannya.”» Kemudian ketika dia memiliki kekuasaan, dia mengulang perlakuan yang sama kepada generasi berikutnya.
Siklus itu terus berjalan. Tapi ada seseorang yang suatu hari berhenti dan berkata: «“Aku tahu rasanya diperlakukan seperti ini. Dan aku tidak ingin orang setelahku merasakan hal yang sama.”» Dia tidak bisa mengubah masa lalu. Dia tidak bisa kembali menjadi dirinya yang dulu dan memberikan apa yang seharusnya dia dapatkan. Tapi dia bisa menentukan satu hal: rasa sakit itu berhenti di dirinya. Menurutku, itulah makna cycle breaker yang sebenarnya.
Bukan menjadi manusia sempurna. Bukan selalu menjadi orang yang paling sabar. Bukan juga menjadi seseorang yang tidak pernah egois. Tetapi ketika kita menyadari bahwa kita sedang mengulangi pola yang dulu menyakiti kita, kita berani berhenti.
Kita berani berkata: «“Oh... ternyata aku sedang melakukan hal yang dulu kubenci.”» Dan setelah menyadarinya, kita memilih memperbaikinya.
Jangan Sampai Luka Mengubah Kita Menjadi Orang yang Dulu Kita Benci
Mungkin kita memang tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan orang yang tidak jujur. Ada yang suka memanipulasi. Ada yang tidak menghargai batasan. Ada yang menikmati perhatian tanpa mau bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Ada yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri. Ada juga yang mungkin membawa luka mereka sendiri ke dalam hubungan dan tanpa sadar melukai orang lain. Kita tidak bisa mengendalikan semuanya.
Tapi kita bisa mengendalikan satu hal: apa yang kita pilih untuk lakukan setelah kita terluka. Kita bisa memilih untuk menjadi semakin keras. Atau kita bisa memilih untuk menjadi lebih sadar.
Kita bisa berpikir: «“Karena dulu aku diperlakukan seperti ini, sekarang giliranku.”»
Atau:
«“Karena dulu aku tahu betapa sakitnya diperlakukan seperti ini, aku tidak mau melakukan hal yang sama kepada orang lain.”»
Pilihan kedua bukan berarti kita lebih lemah. Justru dibutuhkan keberanian untuk tidak membalas sesuatu yang pernah menyakiti kita.
Jadi, Apakah Kamu Empatik?
Mungkin pertanyaannya bukan: “Apakah aku seorang narcissist atau empath?” Karena manusia terlalu kompleks untuk dibagi hanya menjadi dua kelompok.
Pertanyaan yang menurutku jauh lebih penting adalah: “Ketika aku terluka, aku menjadi seperti apa?” Ketika punya kesempatan untuk membalas, apakah aku memilih membalas? Ketika seseorang menyukaiku tetapi aku tidak menyukainya, apakah aku memberinya kejelasan? Ketika aku sadar bahwa tindakanku menyakiti seseorang, apakah aku defensif atau mau bertanggung jawab? Ketika aku memahami bahwa seseorang punya luka, apakah aku menggunakan luka itu sebagai alasan untuk membenarkan perilakunya—atau tetap menjaga batasanku?
Dan yang paling penting: Ketika aku menyadari bahwa aku sedang mengulang pola yang dulu menyakitiku, apakah aku berani menghentikannya? Karena menjadi manusia yang empatik bukan berarti kita tidak pernah punya ego.
Kita punya ego. Kita bisa iri. Kita bisa ingin menang. Kita bisa ingin merasa dibutuhkan. Kita bisa ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki kendali setelah bertahun-tahun merasa tidak berdaya.
Itu semua mungkin muncul. Tapi kesadaran memberi kita kesempatan untuk memilih. Kita tidak selalu bisa memilih luka yang pernah diberikan kepada kita. Tapi kita bisa memilih apakah luka itu akan kita teruskan kepada orang berikutnya
Dan mungkin... itulah bentuk empati yang paling nyata. Bukan sekadar mampu merasakan sakitnya orang lain. Tetapi ketika kita tahu betapa sakitnya itu—kita memilih untuk tidak memberikannya kepada orang lain.
Comments
Post a Comment