Posts

Showing posts from August, 2026

Ketika Kita Disakiti, Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Sama

Halo lagi! Yuk, kita ngobrolin sesuatu yang mungkin sedikit nyentil ego kita hari ini. Pernah nggak sih kamu ada di fase ketika dulu kamu pernah didinginkan, digantungin, atau di-PHP-in habis-habisan sama seseorang? Rasanya sakit banget, kan? Kita jadi bingung. Bertanya-tanya apa yang salah dari diri kita. Menunggu pesan yang nggak kunjung datang. Menebak-nebak sebenarnya hubungan ini mau dibawa ke mana. Sampai suatu hari, posisi kita berbalik. Sekarang justru kita yang dikejar. Dan tanpa sadar, kita melakukan hal yang dulu paling kita benci. Balas pesan lama. Tarik-ulur perhatian. Memberi harapan secukupnya supaya dia tetap bertahan. Lalu muncul suara kecil di kepala: «“Oh... ternyata begini ya rasanya jadi pihak yang punya kendali.”» Dan mungkin, jujur saja, ada sedikit rasa puas di sana. Karena dulu kita adalah orang yang menunggu. Sekarang kita yang ditunggu. Dulu kita tidak punya kendali atas perasaan orang lain. Sekarang kita merasa punya kendali atas perasaan seseorang. Tapi kep...

Mengurai Benang Kusut Emosi: Mengapa Kita Menghindari Perasaan Kita Sendiri?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa masyarakat kita sering kali begitu reaktif terhadap seseorang yang meluapkan emosinya? Mengapa mereka yang marah atau menangis histeris lebih sering dicap "baper", "tukang drama", atau bahkan "kerasukan", alih-alih ditanya, "Apa yang membuatmu sampai sesakit ini?" Jika kita menelusuri fenomena ini lebih dalam, kita akan menemukan sebuah realitas psikologis yang ironis: manusia modern sangat takut pada emosi mentah yang tidak mereka pahami. Ketel Uap Emosi: Budaya Menahan Diri vs. Budaya Ekspresif Cara kita memproses rasa sakit sangat dipengaruhi oleh budaya tempat kita dibesarkan. Mari kita bandingkan budaya ekspresif (seperti di Brasil atau Italia) dengan budaya menahan diri atau reserved (seperti di Jepang, Korea Selatan, atau Inggris). Di negara-negara reserved, menjaga harmoni sosial dan reputasi (atau dalam istilah Jepang, tatemae—topeng sosial) adalah segalanya. Emosi negatif diredam demi kenyamanan pub...