Persepuluhan: Antara Hukum Empiris Agraria Israel dan "Plintiran" Modern

🙎‍♂️: Gw gak gereja-gerejaan lagi. Perpuluhan kok ditekankan sampai ada ancaman kutukan... Tuhan kok gitu? Mending gw Agnostik aja.

👩: Eh, Tuhan nggak pernah mengadakan hal seperti itu. Coba kamu pelajari data empiris dan sejarah aslinya. Jangan sampai belum mengenal Tuhan secara pribadi, tapi sudah menilai-Nya berdasarkan ucapan orang lain—termasuk yang belum tentu benar. Sini, aku jelaskan.

Mari kita bicara data, bukan manipulasi emosi. Sebelum membaca, ingat dulu: 1 + 1 = 2 ✨ Kalau ada yang bilang jawabannya 5, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa ulang.


1. Secara Bahasa: Apa Itu "Ma'aser"?

Dalam bahasa Ibrani, perpuluhan disebut Ma'aser (מַעֲשֵׂר). Datanya: di seluruh Perjanjian Lama, objek Ma'aser adalah hasil tanah (gandum, anggur, minyak) dan hewan ternak.

Hanya itu. Selain komoditi tersebut, tidak ada. Bahkan pada zaman ahli Farisi, penerapan hukum ini "diperluas" hingga mencakup bumbu dapur seperti adas, selasih, dan jintan—yang sejatinya tidak termasuk kategori wajib. Yesus sendiri menyindir perilaku ini: mereka begitu teliti soal hal kecil yang bukan kewajiban asal, tetapi mengabaikan hal-hal besar seperti keadilan (Matius 23:23).

Fakta: Tidak ada penggunaan kata Ma'aser dalam Kitab Suci yang merujuk pada emas, perak (mata uang zaman itu), upah pekerja ladang, atau hasil dagang.


2. Target Hukum: Hanya Pemilik Tanah

Kewajiban ini melekat pada pemilik ladang atau peternak—bukan pekerja ladangnya. Mereka yang diberi kewajiban ini adalah golongan yang relatif lebih mampu dibanding profesi lainnya.


3. Bagaimana dengan Yesus dan Murid-Nya?

Yesus adalah seorang Tekton (tukang kayu/perajin), dan sebagian besar murid-Nya berprofesi sebagai nelayan. Secara hukum Taurat, mereka tidak memiliki kewajiban membayar perpuluhan karena tidak menghasilkan gandum atau ternak dari tanah warisan.

Apakah Yesus berdosa karena itu? Tentu tidak—karena memang aturannya demikian. Tidak ada catatan historis bahwa siapa pun mempermasalahkan hal ini di zaman-Nya.

(Catatan: Pajak negara, pajak Bait Suci, dan persembahan sukarela tetap berlaku bagi semua orang secara umum.)

Jadi, jika alasannya adalah kebutuhan operasional dan pembangunan gereja—silakan sampaikan secara transparan dan tanamkan kesadaran jemaat dengan cara yang sehat. Namun, mengubah makna asli hukum perpuluhan menjadi kewajiban 10% dari gaji, disertai ancaman kutuk yang ada dalam kitab Imamat dalam konteks Ma'aser (khusus pemilik tanah warisan Israel kuno) yang benar-benar berbeda jauh dengan konsep tsb, adalah hal yang perlu ditinjau ulang secara serius.


4. Apa Fungsi Asli Ma'aser? (Sistem Jaminan Sosial)

Hukum jaminan sosial ini sejatinya 100% baik. Ada 3 jenis perpuluhan (ingat: hanya dari hasil bumi milik pemilik lahan):

  • Ma'aser Rishon: Untuk kaum Lewi, karena mereka dilarang memiliki warisan tanah.
  • Ma'aser Sheni: Dimakan sendiri oleh si pemilik di Yerusalem sebagai bentuk perayaan syukur.
  • Ma'aser Ani: Diberikan setiap tahun ke-3 dan ke-6 untuk membantu fakir miskin.


5. Bagaimana dengan Gereja Mula-Mula (Zaman Rasul)?

Jika kita membaca surat Korintus atau Roma, prinsip utamanya adalah: saling membantu—yang kuat menopang yang lemah.

Tidak ada konsep perpuluhan di sana. Para rasul bukan suku Lewi atau imam Bait Suci Yudaisme. Mereka adalah komunitas baru pengikut Yesus Kristus dari Nazaret—yang dipercaya sebagai penggenap nubuatan Mesias. Bahkan jika diterapkan pun, patokannya tetap hasil tani, bukan uang.

Mereka hidup saling menopang: yang berkecukupan memberi hartanya, yang bisa melayani memberi tenaganya. Tidak ada konsep "10% atau kamu kena kutuk." Konteksnya berbeda—komoditi perpuluhan sudah ditentukan secara spesifik.

Sebagai analogi: di negara kita saja ada batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Seseorang baru dikenai pajak jika penghasilannya melampaui batas tertentu. Apakah layak jika sebuah lembaga rohani menerapkan standar yang lebih berat dari itu tanpa dasar Kitab Suci yang kuat?

Menolong perluasan Kerajaan Tuhan itu penting, tapi tidak ada angka 10% yang diwajibkan dalam konteks Perjanjian Baru. Berilah sesuai kerelaan dan kemampuanmu. Hukum tabur-tuai itu nyata—tetapi bukan dengan cara menetapkan "tarif" atau mengintimidasi.


6. Sejak Kapan Terjadi Pergeseran?

Praktik perpuluhan mulai bergeser menjadi semacam "pajak wajib" di Eropa pada Abad Pertengahan, ketika institusi keagamaan memiliki kekuatan politik dan membutuhkan dana besar untuk operasional.

Memang ada masa-masa di mana hukum agama bercampur dengan kepentingan kekuasaan. Dari situlah lahir pola "menakut-nakuti jemaat" demi kepentingan materi. Banyak gereja arus utama saat ini sudah kembali ke prinsip pemberian sukarela. Yang perlu diwaspadai adalah pihak-pihak yang masih menggunakan ancaman rohani sebagai alat tekanan finansial.


7. Argumen "Ma'aser Kesafim" (Perpuluhan Uang)?

Data penting:

Pencetus: Para Rabi Yahudi di masa Diaspora (karena mereka tidak lagi memiliki tanah).

Status Hukum: Bukan perintah Tuhan langsung (De-Oraita). Hampir seluruh ahli hukum Yahudi sepakat ini adalah Minhag (tradisi/kebiasaan) atau De-Rabbanan (aturan buatan rabi).

Dalam Taurat, tidak ada ayat yang memerintahkan perpuluhan dari gaji atau uang.

Jadi, penting untuk membedakan mana perintah Tuhan dan mana tradisi buatan manusia.

Dan perlu dicatat: para Rabi di sana pun menggunakan dana perpuluhan untuk menolong yang tidak mampu—bukan memungut dari mereka yang sudah kesulitan.


8. Logika yang Terbalik

Dasar hukumnya ada di Ulangan 14 dan Imamat 19. Tuhan dengan tegas memposisikan orang yang tidak punya aset tanah—anak yatim, janda, orang asing—sebagai PENERIMA bantuan.

Maka sangat ironis jika seorang pekerja bergaji pas-pasan yang tidak memiliki aset justru diancam kutuk karena tidak menyetor 10%. Menurut Taurat, merekalah yang seharusnya dibantu, bukan dibebani.

Jangan sampai misi gereja yang seharusnya merangkul jiwa, malah tereduksi menjadi soal dompet semata.


Penutup & Prinsip Sehat

Ingat: kamu bukan pemilik tanah warisan Israel kuno. Memberikan kepada gereja, panti asuhan, janda, atau siapa pun yang membutuhkan—sebesar 0,1% hingga 100%—itu sepenuhnya hak dan keputusanmu. Tidak ada patokan angka.

Asalkan:

  1. Kamu memang tergerak dari hati (sukarela)
  2. Kamu bisa berdiri sendiri dan tidak merepotkan orang lain
  3. Kamu tidak berakhir berutang di akhir bulan demi menyetor
  4. Keluarga dan tanggunganmu tetap terpenuhi kebutuhannya
  5. Kamu makin mencintai Tuhan—bukan makin ketakutan
  6. Kamu memiliki pengenalan sendiri akan Tuhan melalui data dan sejarah yang jujur


Refleksi Pribadi

Mungkin Tuhan mengizinkan fenomena ini juga sebagai ujian bagi para pelayan-Nya: setelah mempelajari Alkitab sedalam itu, akankah mereka memilih transparansi dan ketulusan dalam mengajar? Atau memilih jalan yang lebih "menguntungkan" secara materi apa lagi kekeliruan ini sudah umum dan kronis?

Pikirkan itu. Karena Yesus sendiri berkata bahwa penyesatan memang akan datang—dan itu menjadi saringan.

Tugasmu adalah bersikap kritis, mau belajar mengenal Tuhan secara pribadi, agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran (Efesus 4:14). Apalagi di zaman di mana akses informasi sudah begitu terbuka.


Penutup Akhir

Berilah semampunya, berilah setergeraknya!

Cinta, belas kasih, dan keadilan harus tumbuh seiring rasa syukur dan cintamu kepada Sang Pencipta—bukan seiring ketakutanmu.

Dan ingat: bahkan perhatian tulus yang lahir dari hati yang tergerak secara alami—kepada pasangan, anak, atau siapa pun—itu pun memiliki hukum tabur-tuainya. Tidak selalu soal uang.

Pemberianmu bisa mengalir ke keluarga yang membutuhkan, saudara yang sedang kesulitan, panti asuhan, janda, atau gereja demi perluasan Injil—sesuai hikmat dan pengertian hatimu. Bebas, tanpa patokan angka, tanpa paksaan.

Kalau kita bisa menolong dan berguna bagi sesama, bukankah itu sendiri sudah mendatangkan sukacita?


---Syema Gloria (Penulis)


QnA

1) Kalau posisinya kita orang kaya, bagaimana?

Jawabannya tetap sama: tidak ada patokan 10%. Jika kamu memiliki pemahaman dan kerelaan bahwa gereja membutuhkan dana operasional yang tidak sedikit, dan kamu memang berlebihan—silakan menopang. Itu indah.

Tapi meskipun kamu kaya dan hanya merasa rela memberi 1%—apa salahnya? Pembaruan hati itu tumbuh dari dalam, belas kasih lahir dari pengertian—bukan dari tekanan. Selama belum diberikan, itu masih 100% hakmu.

Tidak dibenarkan mengubah makna asli Kitab Suci demi alasan operasional, lalu menjadikan jemaat tersandung karena beban yang bukan seharusnya mereka pikul. Pertimbangkan dampak rohaninya—bukan hanya dampak finansialnya.

Jika memang ada kebutuhan, bukankah lebih baik mencari Tuhan untuk solusi? Dia Maha Kuasa—hati raja-raja pun ada di tangan-Nya (Amsal 21:1), dan Ia mempertemukan yang punya dengan yang membutuhkan (Amsal 22:2).


Comments

Popular posts from this blog

Memilih Pasangan Hidup: Kenapa Kita Harus Memilih Antara "Perbesar Kapasitas" atau "Cari Jalan Aman" dalam Hubungan?

Mengurai Benang Kusut Emosi: Mengapa Kita Menghindari Perasaan Kita Sendiri?